Ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap sekutunya yang menolak terlibat dalam perang melawan Iran.
Pernyataan tersebut muncul di tengah konflik yang semakin meluas dan berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi.
Melalui platform Truth Social, Trump secara terbuka menyindir negara-negara Eropa yang terdampak lonjakan harga bahan bakar akibat penutupan Selat Hormuz.
Ia bahkan mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengatakan, “pergilah ambil minyak kalian sendiri,” yang dalam terjemahan bebas merujuk pada dorongan untuk merebut sumber energi dari kawasan Teluk secara paksa. Pernyataan ini justru memicu reaksi pasar yang membuat harga minyak kembali melonjak.
Dalam pernyataan lanjutan kepada media, Trump mencoba meredakan kekhawatiran publik dengan menyebut operasi militer AS di Iran akan segera berakhir.
Ia mengatakan perang tersebut kemungkinan hanya berlangsung dua hingga tiga minggu lagi sambil menegaskan bahwa pemerintahannya tengah menjajaki jalur diplomasi dengan Teheran. “Operasi ini akan berakhir sangat segera,” ujarnya.
Trump juga menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bukan berada di tangan Amerika Serikat, melainkan negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut.
“Itu bukan untuk kami. Itu untuk siapa pun yang menggunakan selat itu,” kata Trump kepada wartawan, mempertegas sikap lepas tangan Washington dalam isu distribusi energi global.
Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Trump akan segera menyampaikan pidato resmi guna memberikan pembaruan terkait situasi Iran. Pernyataan ini dinilai sebagai upaya pemerintah AS untuk mengendalikan narasi di tengah tekanan internasional yang semakin besar.
Sementara itu, sejumlah negara Eropa mulai menunjukkan sikap tegas terhadap konflik ini. Prancis dilaporkan menolak memberikan akses wilayah udara bagi pesawat Israel yang membawa perlengkapan militer. Italia juga menolak permintaan mendadak dari Amerika Serikat untuk mendaratkan pesawat pengebom di Sisilia.
Spanyol bahkan lebih dulu mengambil langkah dengan menutup akses pangkalan militernya untuk kepentingan perang tersebut.
Menteri Pertahanan Spanyol menegaskan sikap negaranya dengan pernyataan keras. “Kami tidak akan menerima ceramah dari siapa pun,” ujarnya, menekankan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan prinsip hukum internasional dan kepentingan nasional. Ia juga menambahkan bahwa konflik yang berlangsung belum memiliki tujuan yang jelas meski telah berjalan selama sebulan.
Di sisi lain, Inggris berada dalam posisi dilematis. Meski pemerintahnya menyebut konflik tersebut ilegal, London tetap mengizinkan penggunaan pangkalan militernya oleh AS. Namun, langkah itu tidak membuat Inggris luput dari kritik Trump.
Dalam unggahannya, Trump menyebut negara-negara seperti Inggris yang terdampak krisis bahan bakar akibat Selat Hormuz seharusnya membeli minyak dari AS atau mengambil langkah lebih agresif. “Bangun keberanian yang tertunda, pergi ke selat itu, dan ambil saja,” tulisnya.
Pernyataan tersebut turut diperkuat oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang mengatakan bahwa negara-negara lain seharusnya ikut bertanggung jawab dalam menjaga jalur strategis tersebut.
Ia bahkan menyindir kemampuan militer Inggris dengan mengatakan, “setahu saya ada Angkatan Laut Kerajaan yang besar dan kuat yang seharusnya bisa melakukan hal seperti itu.”
Namun, banyak analis menilai gagasan untuk menguasai Selat Hormuz secara paksa sebagai langkah berisiko tinggi dan sulit direalisasikan. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia, sehingga setiap upaya militer berpotensi memicu konflik yang lebih luas.
Dampak ekonomi dari konflik ini semakin terasa di berbagai negara. Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin, menyebut gangguan pasokan minyak akibat perang sebagai “yang terburuk yang pernah ada.” Lonjakan harga energi juga memperparah tekanan inflasi global yang sebelumnya sudah tinggi.
Di Amerika Serikat sendiri, tekanan domestik mulai meningkat. Harga bensin yang menembus angka 4 dolar per galon memicu kekhawatiran publik, sementara konflik yang telah berlangsung selama satu bulan belum menunjukkan titik akhir yang jelas. Meski Washington mengklaim tengah bernegosiasi dengan Iran, respons dari Teheran cenderung hati-hati.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa negaranya memiliki keinginan untuk mengakhiri konflik, namun dengan syarat tertentu. “Kami memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri perang, asalkan syarat-syarat penting dipenuhi,” ujarnya, termasuk jaminan bahwa konflik serupa tidak akan terulang di masa depan.
Di tengah situasi yang memanas, serangan militer terus berlanjut. Ledakan dilaporkan terjadi di Riyadh, sementara Iran menyerang kapal tanker minyak di kawasan Teluk. Serangan udara AS juga menghantam fasilitas penting di Isfahan, menandai eskalasi yang semakin serius dengan penggunaan pembom strategis B-52.
Konflik ini telah menewaskan lebih dari 3.000 orang dan memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas global. Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo XIV, menyerukan penghentian kekerasan dan berharap perang dapat segera berakhir.
“Saya berharap ada jalan keluar,” ujarnya, menekankan pentingnya perdamaian terutama menjelang perayaan keagamaan.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, upaya diplomasi mulai bermunculan. Pakistan dan China dilaporkan mengajukan proposal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun hingga kini, belum ada kepastian apakah inisiatif tersebut akan diterima oleh pihak-pihak yang terlibat.
Situasi ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang hubungan internasional dan ekonomi global. Sikap keras Trump terhadap Eropa menjadi salah satu indikator bahwa aliansi lama kini tengah diuji oleh dinamika geopolitik yang semakin kompleks.