Rencana impor 105.000 unit mobil pickup dari India untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih kembali menjadi sorotan. Di balik polemik kebijakan impor, satu hal yang mencuri perhatian adalah harga dan spesifikasi kendaraan yang disebut jauh lebih terjangkau dibandingkan pickup 4×4 yang saat ini beredar di pasar Indonesia.
Pickup impor tersebut akan digunakan untuk mendukung distribusi logistik desa, sektor pangan, hingga aktivitas ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.
PT Agrinas Pangan Nusantara menegaskan bahwa harga kompetitif menjadi alasan utama memilih kendaraan asal India. Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, menyebut pickup yang akan diimpor memiliki value for money tinggi dengan banderol sekitar 50 persen lebih murah dibandingkan model sekelas dari Jepang.
Salah satu model yang telah lebih dulu hadir di Indonesia adalah Mahindra Scorpio Pikup, yang dipasarkan melalui RMA Group Indonesia. Model ini disebut menjadi referensi spesifikasi pickup India yang akan digunakan untuk koperasi desa.
Melansir dari laman resmi perusahaan, Mahindra Scorpio Pikup dibekali mesin diesel mHawk 2.2 liter yang mampu menghasilkan tenaga 140 HP dan torsi 320 Nm, dipadukan transmisi manual 6-percepatan. Sistem penggerak 4×4 dengan transfer case elektronik memungkinkan kendaraan ini beroperasi di berbagai kondisi jalan, termasuk medan desa dan area pertanian.
Kemampuan angkutnya mencapai 1–1,2 ton, dengan daya tarik (towing) hingga 2,5 ton, menjadikannya cocok untuk kebutuhan logistik skala desa hingga antardesa.
Untuk dimensi, Scorpio Pikup single cabin memiliki panjang 5.165 mm, lebar 1.820 mm, dan tinggi 1.850 mm. Sementara varian double cabin sedikit lebih tinggi dengan konfigurasi kabin ganda untuk membawa penumpang tambahan.
Dari sisi fitur, pickup ini sudah dilengkapi Electronic Stability Program (ESP), Hill Descent Control, ABS + EBD, airbag ganda, hingga mechanical locking differential untuk menjaga traksi di medan licin. Fitur efisiensi seperti Micro Hybrid Stop-Start System juga diklaim mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga sekitar 11,2 km/liter.
Harga Jauh di Bawah Kompetitor
Sebagai perbandingan, pickup 4×4 yang saat ini dijual di Indonesia seperti Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton umumnya dipasarkan pada kisaran Rp 380 juta hingga Rp 540 juta, mayoritas berkonfigurasi double cabin.
Untuk pasar Indonesia, Mahindra Scorpio Pikup Single Cabin 4×4 dibanderol sekitar Rp 278 juta, sedangkan Double Cabin 4×4 berada di kisaran Rp 318 juta on the road. Angka ini terpaut cukup jauh dari pickup 4×4 Jepang yang umumnya dipasarkan di atas Rp 400 juta.
Selain Mahindra, nama lain seperti Tata Motors juga disebut akan terlibat melalui model Tata Yodha dan Tata Ultra T.7, meski spesifikasi dan harga resminya untuk Indonesia belum diumumkan. Di pasar India, model-model tersebut berada di kisaran Rp 300 jutaan.
Pickup impor ini direncanakan menjadi kendaraan operasional Koperasi Desa Merah Putih, digunakan untuk distribusi hasil pertanian, logistik pangan, hingga kebutuhan ekonomi lokal. Pemerintah berharap kendaraan dengan harga terjangkau dan spesifikasi tangguh ini dapat menunjang produktivitas desa dalam skala nasional.
Namun di sisi lain, kebijakan impor tersebut tetap menuai kritik karena Indonesia dinilai memiliki kapasitas produksi pickup hingga 1 juta unit per tahun yang belum dimanfaatkan optimal.
Terlepas dari polemik, dari sisi harga dan spesifikasi, pickup impor India menawarkan kombinasi 4×4, daya angkut besar, dan harga terjangkau, yang menjadi alasan kuat mengapa kendaraan ini dipilih untuk mendukung operasional koperasi desa di seluruh Indonesia.