Seorang pria berusia 32 tahun di Wenzhou mengalami kejadian tak terduga setelah memeriksakan diri ke rumah sakit akibat nyeri perut yang ia rasakan.
Hasil pemeriksaan medis justru mengungkap bahwa sebuah termometer berbahan merkuri yang tertelan sejak masa kecil masih berada di dalam tubuhnya hingga kini.
Pria bermarga Wang itu datang untuk mendapatkan penanganan di The First Affiliated Hospital of Wenzhou Medical University. Tim medis yang melakukan pemeriksaan menemukan adanya benda asing di bagian duodenum atau usus dua belas jari.
Berdasarkan hasil pemindaian, objek tersebut diduga kuat merupakan termometer merkuri yang sudah lama berada di dalam tubuh pasien.
Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko. Ujung termometer diketahui menekan langsung dinding usus, yang berpotensi menyebabkan perforasi atau kebocoran organ.
Jika hal itu terjadi, pasien bisa mengalami perdarahan internal serius yang mengancam nyawa. Dokter pun segera mengambil keputusan untuk melakukan tindakan pengangkatan.
Dalam keterangannya kepada tim medis, Wang mengungkap bahwa ia secara tidak sengaja menelan termometer tersebut saat berusia sekitar 12 tahun. Namun karena diliputi rasa takut dimarahi orang tua, ia memilih untuk menyembunyikan kejadian itu.
“Saya menelannya tanpa sengaja saat masih kecil, tetapi saya terlalu takut untuk memberi tahu orang tua,” ujar Wang seperti dilansir Mashable Indonesia dari South China Morning Post.
Seiring berjalannya waktu, tidak muncul gejala berarti yang membuatnya curiga, sehingga kejadian tersebut pun terlupakan. Hingga akhirnya, rasa sakit di bagian perut yang muncul belakangan ini membawanya ke rumah sakit dan membuka fakta yang mengejutkan.
Tim dokter kemudian melakukan prosedur endoskopi untuk mengeluarkan benda tersebut. Operasi berlangsung sekitar 20 menit dan berjalan lancar, meski memiliki tingkat kesulitan tinggi. Posisi termometer yang berada dekat dengan saluran empedu membuat prosedur harus dilakukan dengan sangat hati-hati guna menghindari kerusakan pada jaringan usus.
Setelah berhasil diangkat, termometer ditemukan dalam kondisi utuh, meskipun tanda ukurannya sudah tidak lagi terlihat jelas.
Keutuhan benda tersebut menjadi faktor penting yang mencegah risiko lebih besar, mengingat kandungan merkuri di dalamnya bisa berbahaya jika bocor ke dalam tubuh.
Pihak rumah sakit melalui pusat endoskopi turut mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan kejadian menelan benda asing.
“Orang yang menelan benda asing sebaiknya segera berhenti makan dan minum, meminimalkan aktivitas menelan dan berbicara, serta segera mencari pertolongan medis,” demikian imbauan tenaga medis yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Kasus yang dialami Wang bukanlah satu-satunya. Data dari Wenzhou Daily Newspaper Group menyebutkan bahwa lebih dari satu juta orang di China setiap tahunnya mencari bantuan medis akibat menelan benda asing.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan dengan jumlah lebih dari 60 persen kasus, sementara lansia juga termasuk kategori yang cukup sering mengalami kejadian serupa.
Berbagai jenis benda kerap ditemukan dalam kasus seperti ini, mulai dari tulang ikan, tulang ayam, baterai, magnet, hingga gigi palsu. Dalam insiden lain yang terjadi sebelumnya, seorang pria berusia 64 tahun dari Anhui bahkan diketahui membawa sikat gigi di dalam tubuhnya selama lebih dari lima dekade.
Ia juga mengalami kejadian serupa saat kecil dan memilih untuk merahasiakannya karena takut dimarahi, dengan keyakinan keliru bahwa benda tersebut akan hancur dengan sendirinya.
Kasus Wang pun memicu perhatian luas di media sosial. Banyak warganet menyoroti betapa beruntungnya pria tersebut karena tidak mengalami komplikasi fatal. Salah satu komentar menyebut,
“Dia sangat beruntung. Untungnya termometer itu tidak pecah dan tidak ada merkuri yang bocor,” tulis seorang pengguna, sebagaimana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kejadian yang tampak sepele, terutama yang melibatkan benda asing masuk ke dalam tubuh, dapat menimbulkan risiko serius jika tidak segera ditangani. Penanganan medis sejak dini menjadi langkah krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berbahaya di kemudian hari.