Paus Leo melontarkan kritik tajam terhadap para pemimpin dunia yang dinilai menghabiskan miliaran dolar untuk perang, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam kunjungannya ke Kamerun, Paus menyebut dunia saat ini sedang dihancurkan oleh segelintir tiran yang terus memicu konflik dan kekerasan.
Pernyataan keras tersebut disampaikan di hadapan publik saat ia mengunjungi wilayah yang selama bertahun-tahun dilanda konflik bersenjata. Paus juga menyoroti bagaimana agama kerap disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Ia mengecam pihak-pihak yang memanipulasi nama Tuhan itu sendiri demi keuntungan pribadi, terutama dalam konteks konflik berkepanjangan.
Komentar Paus Leo muncul hanya beberapa hari setelah perselisihannya dengan Donald Trump menjadi sorotan publik. Presiden AS itu sebelumnya melontarkan kritik terbuka melalui media sosial, menyusul sikap Paus yang vokal menentang operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran. Paus bahkan telah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap ancaman yang disampaikan Trump terkait Iran.
Dalam pernyataannya, Paus menegaskan bahwa prioritas dunia seharusnya tidak diarahkan pada perang. Ia mengkritik keras para pemimpin yang mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat demi kepentingan militer.
“Para pemimpin menutup mata terhadap fakta bahwa miliaran dolar dihabiskan untuk pembunuhan dan kehancuran, sementara sumber daya yang dibutuhkan untuk penyembuhan, pendidikan, dan pemulihan justru tidak tersedia,” ujarnya dikutip Mashable Indonesia dari BBC.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak perang jauh lebih panjang dibanding proses kehancuran itu sendiri.
“Para penguasa perang berpura-pura tidak tahu bahwa menghancurkan hanya membutuhkan waktu sekejap, tetapi sering kali seumur hidup tidak cukup untuk membangun kembali,” kata Paus.
Dalam kunjungannya ke kota Bamenda, yang menjadi pusat konflik di wilayah barat laut Kamerun, Paus menggambarkan situasi sebagai siklus kekerasan yang tak kunjung berakhir.
Konflik di wilayah tersebut telah menewaskan ribuan orang dan memaksa banyak warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Paus menilai eksploitasi sumber daya alam turut memperparah situasi.
“Mereka yang merampas sumber daya dari tanah Anda umumnya menginvestasikan sebagian besar keuntungannya ke dalam senjata, sehingga melanggengkan siklus tanpa akhir destabilisasi dan kematian,” ujarnya di hadapan jemaat di sebuah katedral setempat.
Paus juga menekankan pentingnya membangun perdamaian melalui solidaritas antar manusia. “Perdamaian bukanlah sesuatu yang harus kita ciptakan: itu adalah sesuatu yang harus kita rangkul dengan menerima sesama kita sebagai saudara dan saudari,” tuturnya.
Sementara itu, ketegangan antara Paus dan pemerintahan Trump semakin memanas seiring konflik di Iran. Dalam beberapa kesempatan, Paus secara terbuka menyebut perang sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan, bahkan dalam konteks agama.
Saat Misa Minggu Palma di Vatikan, ia menegaskan bahwa ajaran Yesus tidak pernah membenarkan kekerasan.
“Inilah Tuhan kita: Yesus, raja damai, yang menolak perang, yang tidak bisa digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” ucapnya di hadapan puluhan ribu umat. Ia menambahkan, “Ia tidak mendengarkan doa mereka yang berperang, tetapi menolaknya.”
Paus juga mengutip ayat Alkitab untuk memperkuat pesannya, “Sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh darah.”
Di sisi lain, Donald Trump tetap pada pendiriannya dan menilai Iran sebagai ancaman global, terutama terkait potensi kepemilikan senjata nuklir. Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan dengan Paus adalah hal yang wajar.
“Paus boleh mengatakan apa yang ia inginkan—dan saya ingin ia mengatakannya—tetapi saya bisa saja tidak setuju,” kata Trump kepada wartawan.
Meski mendapat serangan terbuka, Paus Leo menegaskan tidak akan mundur dari sikapnya. Ia menyatakan tidak takut terhadap tekanan politik dan akan terus menyuarakan perdamaian di tengah konflik global.
Kunjungan ke Afrika ini menjadi salah satu agenda penting dalam kepemimpinannya, sekaligus mencerminkan peran strategis kawasan tersebut bagi Gereja Katolik.
Dengan jutaan umat yang tersebar di berbagai negara, Afrika menjadi salah satu pusat pertumbuhan terbesar bagi komunitas Katolik dunia.
Melalui pernyataannya, Paus Leo kembali menegaskan posisi moral Gereja yang menolak perang dan kekerasan, serta menyerukan dunia internasional untuk lebih memprioritaskan kemanusiaan dibanding kepentingan politik dan militer.