Krisis di Selat Hormuz kini menjadi momok menakutkan bagi stabilitas ekonomi dunia. Sebagai jalur nadi yang mengalirkan jutaan barel minyak mentah setiap harinya, penutupan jalur ini biasanya berarti “vonis mati” bagi industri otomotif negara pengimpor.
Namun, sebuah paradoks muncul yaitu China, importir minyak terbesar lewat jalur tersebut, justru diprediksi menjadi negara yang paling tahan banting menghadapi guncangan ini.
Laporan Reuters, data terbaru per kuartal pertama 2025 menunjukkan China mengimpor 5,4 juta barel per hari (mb/d) melalui Selat Hormuz. Angka ini setara dengan gabungan impor India (2,1 mb/d), Korea Selatan (1,7 mb/d), dan Jepang (1,6 mb/d). Lantas, apa rahasia “kekebalan” Negeri Tirai Bambu ini?
Kunci utama ketahanan China terletak pada revolusi otomotifnya. Saat negara-negara tetangga di Asia mulai panik dan meminta warganya menghemat energi, China justru memetik buah dari investasi jangka panjang mereka di sektor kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).
Pada akhir 2020, Beijing menargetkan penjualan EV mencapai 20% pada 2025. Faktanya, target itu melesat jauh; tahun lalu, setengah dari seluruh penjualan mobil baru di China adalah kendaraan listrik.
“Booming EV yang tak terduga ini membuat konsumsi bahan bakar fosil di China mencapai puncaknya lebih cepat. Mereka membakar dan mengimpor lebih sedikit minyak dibandingkan prediksi beberapa tahun lalu,” tulis laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA).
Estimasi menyebutkan bahwa volume minyak yang berhasil “digantikan” oleh populasi EV di China tahun lalu hampir setara dengan total impor minyak mereka dari Arab Saudi.
Berbeda dengan Jepang yang menggantungkan 80% kebutuhan minyaknya pada Arab Saudi dan UEA, China sangat protektif terhadap independensi energinya. China membagi porsi impornya secara merata kepada lebih dari delapan negara pemasok.
Bahkan, China memanfaatkan celah sanksi AS dengan membeli minyak diskon dari Rusia, Venezuela, dan Iran. Strategi ini membuat pasokan mereka tetap mengalir meski jalur tradisional seperti Selat Hormuz terganggu.
Selain itu, China memiliki cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve) yang sangat rahasia. Gabungan antara stok pemerintah dan kilang komersial diperkirakan mampu menutupi kebutuhan impor via Hormuz selama tujuh bulan penuh.
Keunggulan China yang tidak dimiliki oleh negara kepulauan seperti Jepang atau Korea Selatan adalah koneksi darat. Melalui jaringan pipa raksasa seperti Power of Siberia, China terus meningkatkan impor gas dan minyak via jalur darat dari Rusia, Asia Tengah, hingga Myanmar.
Hal ini secara otomatis mengurangi ketergantungan pada jalur laut (seaborne) yang rentan terhadap konflik geopolitik.
Ketahanan otomotif China juga didukung oleh infrastruktur pengisian daya yang mandiri. Grid listrik mereka hampir seluruhnya ditenagai oleh produksi batubara domestik dan pertumbuhan energi terbarukan (angin dan surya) yang masif. Artinya, saat mobil listrik mereka mengisi daya, energi tersebut tidak berasal dari gas atau minyak impor, melainkan dari sumber daya dalam negeri.
“Situasi saat ini benar-benar mendekati apa yang telah direncanakan para perencana kebijakan China selama puluhan tahun,” ujar Lauri Myllyvirta, co-founder CREA.
Para analis menilai ketergantungan China terhadap minyak asing tidak akan memburuk. “Permintaan minyak China kemungkinan besar mencapai puncaknya tahun ini dan akan menurun setelahnya,” ungkap Chen Lin, Wakil Presiden riset minyak dan gas di Rystad Energy.
Dengan kombinasi dominasi pasar EV dunia, diversifikasi pemasok, dan cadangan raksasa, China telah berhasil membangun “benteng energi” yang membuat mereka tetap tenang di tengah badai krisis Selat Hormuz.