Di tengah gempuran tren kendaraan listrik (EV) berbasis baterai, Toyota secara mengejutkan memperkuat posisinya di jalur energi alternatif. Pabrikan asal Jepang ini resmi mengumumkan kerjasama strategis dengan dua raksasa otomotif Eropa, Daimler Truck dan Volvo Group.
Melalui langkah ini, Toyota bergabung ke dalam cellcentric, sebuah perusahaan patungan (joint venture) yang awalnya didirikan oleh Volvo dan Daimler pada tahun 2020. Kolaborasi “tiga besar” ini fokus pada pengembangan, manajemen, hingga produksi massal unit sel bahan bakar (fuel cell) yang ditujukan khusus untuk kendaraan komersial berat.
Dikutip dari Engadget, Kamis (2/4/2026), keputusan ini menandai pergeseran peta kekuatan teknologi hidrogen global. Dengan bergabungnya Toyota, cellcentric kini memiliki akses ke basis data dan riset yang jauh lebih luas untuk menciptakan sistem sel bahan bakar yang lebih efisien, tahan lama, dan terjangkau bagi industri logistik global.
Menyatukan Pengalaman 3 Dekade: Sinergi Penumpang dan Komersial
Presiden dan CEO Toyota, Koji Sato, menyatakan optimisme tinggi terhadap kemitraan ini. Menurutnya, kolaborasi ini bukan sekadar bisnis, melainkan langkah nyata dalam membangun masyarakat berbasis hidrogen yang ramah lingkungan.
Sato menyoroti bahwa Toyota membawa “senjata utama” berupa pengalaman lebih dari 30 tahun dalam mengembangkan teknologi sel bahan bakar pada sektor mobil penumpang (seperti Toyota Mirai).
Sinergi ini diharapkan mampu menjembatani celah teknologi antara mobil pribadi dan kendaraan berat. Dengan menggabungkan keahlian mendalam cellcentric di sektor komersial serta kematangan teknologi Toyota, aliansi ini diprediksi akan menghadirkan sistem fuel cell tercanggih di dunia. Fokus utamanya adalah menjawab tantangan transportasi jarak jauh yang membutuhkan tenaga besar namun tetap harus bebas emisi karbon.
Melawan Arus Industri: Mengapa Hidrogen Masih Bertahan?
Langkah yang diambil Toyota, Daimler, dan Volvo ini tergolong cukup berani karena “melawan arus” tren industri otomotif saat ini. Tahun lalu, beberapa pemain besar mulai menarik diri dari pengembangan hidrogen untuk fokus sepenuhnya pada baterai listrik. Sebut saja Stellantis, induk dari Chrysler, Jeep, dan Peugeot, yang resmi mengakhiri program pengembangan hidrogennya. Langkah serupa diambil oleh General Motors (GM) yang memutuskan menghentikan riset hidrogen pada awal tahun 2025.
Bahkan, Toyota sendiri sempat menunjukkan keraguan tahun lalu dengan mempertimbangkan kembali komitmen hidrogen mereka. Namun, alih-alih menyerah, Toyota justru melakukan reorientasi strategi.
Dibandingkan memaksakan hidrogen untuk mobil kecil, Toyota kini melihat potensi yang jauh lebih besar pada aplikasi industri dan kendaraan komersial berat—di mana baterai listrik seringkali dianggap terlalu berat dan memerlukan waktu pengisian daya yang terlalu lama untuk kebutuhan logistik intensif.
Menatap Masa Depan Logistik Hijau
Bergabungnya Toyota ke dalam cellcentric memberikan pesan kuat kepada pasar global bahwa hidrogen belum mati. Bagi kendaraan berat yang menempuh ribuan kilometer setiap harinya, sel bahan bakar menawarkan keunggulan berupa pengisian daya yang cepat dan jarak tempuh yang lebih panjang dibandingkan baterai konvensional. Melalui kolaborasi lintas benua ini, impian akan ekosistem transportasi yang benar-benar bersih tampaknya semakin mendekati kenyataan.