Sejumlah supercar langka bernilai miliaran rupiah ditemukan terbengkalai di Dubai. Hal ini terungkap di channel YouTube Spotting Brothers yang menelusuri sudut-sudut kawasan industri Al Quoz, Dubai. Mereka menemukan deretan supercar dan mobil koleksi bernilai miliaran rupiah tergeletak tak terawat.
Kawasan Al Quoz memang dikenal sebagai titik di mana kendaraan mewah sering kali “dibuang” oleh pemiliknya. Namun, temuan kali ini benar-benar berada di level yang berbeda.
Bintang utama dalam temuan ini adalah sebuah Mercedes-Benz SLR McLaren 722 Edition. Mobil ini bukan sembarang Mercedes karena mobil ini adalah penghormatan bagi angka balap Stirling Moss di Mille Miglia.
Dipersenjatai mesin V8 5.4 liter supercharged yang memuntahkan tenaga 641 hp, mobil ini hanya diproduksi sebanyak 150 unit di seluruh dunia. Kondisinya saat ditemukan sangat memprihatinkan, diselimuti debu tebal di sekujur bodi abu-abunya. Padahal, di pasar lelang, unit ini memiliki nilai fantastis:
Harga mobil ini diperkirakan $500.000 hingga $800.000 (sekitar Rp7,9 miliar – Rp12,6 miliar). Bahkan pernah sebuah unit serupa pernah terjual seharga $851.000 (Rp13,5 miliar) pada lelang Bonhams Abu Dhabi tahun 2023.
Selain Mercedes-Benz SLR McLaren, para YouTuber tersebut juga menemukan sejumlah “permata” otomotif lain yang ironisnya dibiarkan membusuk di lokasi yang sama. Salah satunya adalah Lamborghini Huracán STO, versi legal jalan raya dari mobil balap Lamborghini yang dirancang khusus untuk performa sirkuit.
Mobil ini mengusung bodi serat karbon dan mesin V10 bertenaga 631 hp, dengan nilai pasar yang masih berada di kisaran 300.000 dolar AS atau sekitar Rp4,7 miliar. Tak kalah menarik, ada pula Shelby Cobra 427 S/C yang keberadaannya memunculkan tanda tanya besar—apakah unit tersebut asli atau hanya replika.
Jika terbukti orisinal, nilainya bisa mencapai jutaan dolar mengingat statusnya sebagai salah satu mobil sport Amerika paling legendaris sepanjang masa.
Selain itu, ditemukan pula deretan mobil eksotis lainnya seperti Ferrari 612 Scaglietti, Mercedes-Benz 600 Pullman yang ikonik, berbagai model Bentley klasik, Rolls-Royce Corniche, hingga BMW M5 yang kondisinya terlihat sudah rusak parah.
Fenomena “kuburan supercar” di Dubai ternyata bukan sekadar soal gaya hidup mewah atau pemilik kaya yang bosan dengan kendaraannya. Di balik itu, terdapat faktor hukum dan finansial yang kompleks.
Di Uni Emirat Arab, secara historis utang yang tidak terbayar atau cek kosong bisa berujung konsekuensi pidana. Kondisi ini membuat sebagian ekspatriat atau pelaku bisnis yang terlilit masalah keuangan memilih meninggalkan mobil mereka—bahkan di bandara atau pinggir jalan—dan keluar dari negara tersebut untuk menghindari risiko hukum.
Meski regulasi telah diperbarui sejak 2022 dengan pelonggaran sanksi untuk kasus cek kosong, proses penyelesaian utang kendaraan tetap rumit. Mobil yang masih berstatus kredit tidak bisa dijual sebelum kewajiban dilunasi, sehingga banyak kendaraan akhirnya terjebak dalam “limbo” hukum dan dibiarkan terbengkalai.
Di sisi lain, faktor lingkungan juga berperan besar. Iklim ekstrem Dubai dengan panas tinggi dan badai pasir membuat biaya restorasi kendaraan menjadi sangat mahal, bahkan sering kali tidak sebanding dengan nilai sisa utang yang harus dibayar.
Bagi para pecinta otomotif, melihat mobil ikonik seperti Mercedes-Benz SLR McLaren 722 Edition atau Lamborghini Huracán STO dibiarkan membusuk tentu menjadi pemandangan yang menyayat hati.
Namun di balik itu semua, fenomena ini mencerminkan sisi lain Dubai—perpaduan antara kemewahan ekstrem, tekanan finansial, dan kendaraan-kendaraan luar biasa yang akhirnya hanya menjadi saksi bisu di pinggir jalan.