Bentley mengubah strategi besarnya untuk dekade mendatang. Pabrikan mobil mewah asal Inggris ini memutuskan untuk mengurangi ambisi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dan beralih fokus ke teknologi hybrid, menyusul melemahnya minat pasar terhadap mobil listrik premium.
Keputusan ini sekaligus menandai perubahan signifikan dari rencana awal Bentley yang sebelumnya ingin meluncurkan lima model listrik baru hingga 2035.
CEO Bentley, Frank Walliser, mengungkapkan bahwa peta jalan perusahaan kini “sangat berbeda” dibandingkan dua tahun lalu. Evaluasi pasar menunjukkan bahwa konsumen di segmen luxury masih belum sepenuhnya siap beralih ke kendaraan listrik murni.
Alih-alih memaksakan transisi, Bentley memilih pendekatan yang lebih realistis dengan memperkuat lini plug-in hybrid (PHEV).
Dari sejumlah proyek EV yang direncanakan, hanya satu model yang dipastikan tetap dikembangkan, yakni SUV listrik pertama Bentley yang dijadwalkan meluncur pada 2027, seperti dilansir dari ArenaEV, Jumat (27/03/2026)
Model ini sebelumnya diperkenalkan melalui konsep Bentley EXP 15 dan akan mengisi segmen “Urban SUV”. SUV listrik ini disebut akan mengusung teknologi baterai dan motor yang serupa dengan Porsche Cayenne Electric.
Bentley mengklaim SUV tersebut mampu menambah jarak tempuh hingga 160 km hanya dalam waktu sekitar tujuh menit melalui fast charging. Namun, angka ini dinilai belum terlalu impresif jika dibandingkan dengan beberapa mobil listrik asal China yang menawarkan pengisian lebih cepat.
Sementara itu, empat model listrik lainnya yang sempat direncanakan akhirnya dibatalkan. Penyebab utamanya adalah keputusan Porsche menghentikan pengembangan platform EV yang sebelumnya akan digunakan bersama.
Tanpa dukungan platform tersebut, Bentley menilai biaya pengembangan EV secara mandiri menjadi terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan potensi pasar saat ini.
Dalam beberapa tahun ke depan, Bentley akan mengandalkan model hybrid sebagai tulang punggung bisnisnya. Saat ini, lini seperti Bentley Continental GT dan Bentley Flying Spur sudah tersedia dalam varian plug-in hybrid.
Kombinasi mesin V8 dan motor listrik dinilai masih menjadi pilihan ideal bagi konsumen, karena menawarkan performa tinggi sekaligus emisi lebih rendah.
Keputusan ini juga didorong oleh pertimbangan bisnis. Bentley tercatat telah mencetak keuntungan selama tujuh tahun berturut-turut. Manajemen ingin menjaga stabilitas tersebut dengan menghindari investasi besar di sektor EV yang belum memberikan permintaan kuat.
Menurut Walliser, terlalu agresif di kendaraan listrik saat ini justru berisiko terhadap profitabilitas perusahaan.
Meski mengurangi agresivitas di EV, Bentley menegaskan tidak meninggalkan visi elektrifikasi sepenuhnya. Perusahaan tetap menargetkan menjadi brand listrik di masa depan, namun dengan pendekatan “wait and see”.
Setelah peluncuran SUV listrik pada 2027, Bentley kemungkinan tidak akan menghadirkan model EV baru hingga setidaknya 2030. Langkah ini diambil untuk melihat perkembangan minat konsumen, khususnya di segmen high-end.