Setelah membatalkan rencana peluncuran supercar listrik pertamanya, Lamborghini ini kini membuka peluang menghadirkan model baru berupa grand tourer (GT) dua pintu dengan konfigurasi empat kursi (2+2).
Langkah ini menandai perubahan besar dalam roadmap Lamborghini, sekaligus menegaskan bahwa elektrifikasi penuh belum menjadi prioritas utama di segmen supercar mewah.
Sebelumnya, Lamborghini telah menyiapkan Lamborghini Lanzador sebagai mobil listrik pertama mereka yang dijadwalkan meluncur sebelum 2030. Namun, proyek tersebut resmi dihentikan setelah perusahaan menemukan bahwa minat konsumen terhadap EV di segmen mereka sangat rendah.
CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, menyebut tingkat penerimaan pasar terhadap kendaraan listrik di kalangan pelanggan Lamborghini “hampir nol”. Ia bahkan menilai pengembangan EV berisiko menjadi investasi mahal tanpa hasil yang jelas.
Menurutnya, pelanggan Lamborghini masih mengutamakan sensasi emosional—seperti suara mesin, getaran, dan karakter berkendara—yang saat ini belum mampu ditawarkan mobil listrik secara maksimal.
Setelah membatalkan Lanzador, Lamborghini kembali mengkaji model keempat dalam lini produknya. Dari berbagai opsi, segmen grand tourer dinilai paling masuk akal.
Winkelmann menegaskan bahwa Lamborghini tidak akan menghadirkan sedan maupun SUV kecil. Model sedan pernah diwacanakan lewat konsep Lamborghini Estoque, namun akhirnya dibatalkan dan digantikan oleh Lamborghini Urus yang kini menjadi tulang punggung penjualan.
“Yang masih kurang dari lini kami adalah grand tourer. Ini juga merupakan titik awal sejarah Lamborghini,” ungkapnya, seperti dilansir dari Fox Business, Jumat (27/03/2026).
Konsep GT 2+2 dianggap mampu mengisi celah tersebut—mobil sport dua pintu dengan empat kursi yang tetap menawarkan performa tinggi namun lebih fungsional untuk penggunaan harian.
Ide ini bukan sepenuhnya baru. Lamborghini pernah memperkenalkan Lamborghini Asterion, sebuah konsep hybrid yang menggabungkan performa dan efisiensi. Meski hanya dua kursi, Asterion memberi gambaran arah desain dan teknologi yang bisa dikembangkan lebih lanjut.
Model GT terbaru nantinya berpotensi mengusung teknologi plug-in hybrid (PHEV), sejalan dengan strategi Lamborghini yang kini fokus pada elektrifikasi bertahap, bukan full EV.
Jika terealisasi, GT 2+2 dari Lamborghini akan langsung bersaing dengan model serupa dari Ferrari, Aston Martin, dan Bentley—yang sudah lebih dulu menawarkan coupe dua pintu dengan empat kursi berperforma tinggi.
Langkah ini dinilai strategis karena memungkinkan Lamborghini memperluas pasar tanpa kehilangan identitas sebagai produsen mobil performa ekstrem.
Saat ini, Lamborghini sudah memiliki lini produk elektrifikasi seperti Lamborghini Revuelto dan Lamborghini Temerario. Kehadiran GT 2+2 nantinya diperkirakan juga akan mengusung teknologi serupa, bukan full EV alias hybrid.