Biaya operasional kendaraan menjadi salah satu faktor utama yang kini dipertimbangkan konsumen sebelum membeli mobil, terutama di tengah kenaikan harga energi global.
Menjawab kebutuhan tersebut, JAECOO Indonesia menghadirkan simulasi biaya penggunaan harian hingga tahunan untuk lini produknya, dengan hasil yang menunjukkan biaya operasional mulai dari kisaran Rp9.000 per hari.
Simulasi ini menggunakan asumsi pemakaian kendaraan sejauh 1.500 kilometer per bulan, mencerminkan pola mobilitas rata-rata masyarakat perkotaan seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Perhitungan tersebut terdiri dari perjalanan harian sekitar 50 kilometer pada hari kerja serta tambahan perjalanan hingga 500 kilometer dalam satu bulan.
Business Unit Director Jim Ma menjelaskan bahwa simulasi ini disusun untuk memberikan gambaran nyata kepada konsumen mengenai biaya energi dari masing-masing model. “Kami melihat banyak calon pembeli yang masih membandingkan berbagai teknologi kendaraan sebelum menentukan pilihan.
Lewat simulasi biaya operasional ini, kami ingin membantu konsumen memahami estimasi pengeluaran energi dari setiap lini JAECOO sehingga mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan mobilitas mereka,” ujarnya.
Dari hasil simulasi tersebut, model listrik murni JAECOO J5 EV menjadi yang paling efisien. Dengan asumsi tarif listrik sekitar Rp1.700 per kWh, biaya energi bulanannya diperkirakan hanya sekitar Rp290.760.
Jika dihitung per hari, angkanya berada di kisaran Rp9.600. Biaya ini tergolong sangat rendah, bahkan lebih murah dibandingkan pengeluaran harian untuk minuman kopi di pusat perbelanjaan.
Efisiensi tersebut didukung baterai berkapasitas 60,9 kWh yang mampu menempuh jarak hingga sekitar 534 kilometer dalam sekali pengisian daya berdasarkan pengujian internal di Indonesia.
Angka ini melampaui estimasi standar NEDC yang berada di kisaran 461 kilometer. Dengan jarak tempuh tersebut, pengguna dengan aktivitas harian sekitar 50 kilometer hanya perlu mengisi daya beberapa hari sekali.
Dalam jangka panjang, biaya energi JAECOO J5 EV juga tetap kompetitif, yakni sekitar Rp872.000 untuk tiga bulan atau sekitar Rp3,49 juta per tahun.
Sementara itu, bagi konsumen yang menginginkan fleksibilitas antara mesin listrik dan bensin, JAECOO J7 SHS-P hadir dengan teknologi Super Hybrid System (SHS).
Model ini memiliki konsumsi bahan bakar sekitar 35 kilometer per liter, dengan estimasi biaya energi bulanan sekitar Rp486.814 atau sekitar Rp5,84 juta per tahun untuk jarak tempuh yang sama.
Di sisi lain, model premium JAECOO J8 SHS-P ARDIS menawarkan kombinasi efisiensi dan performa. Kendaraan ini mampu melaju hingga 180 kilometer dalam mode listrik dan memiliki konsumsi bensin sekitar 23,7 kilometer per liter. Biaya energi bulanannya diperkirakan mencapai Rp584.793 atau sekitar Rp7,01 juta per tahun.
Meski lebih tinggi dibandingkan kendaraan listrik murni, angka tersebut masih tergolong efisien untuk SUV premium berukuran besar, terutama karena dilengkapi sistem penggerak All Wheel Drive (AWD) yang mendukung performa di berbagai kondisi jalan sekaligus mengurangi kekhawatiran terkait jarak tempuh.
Jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional di kelas yang sama, efisiensi ini menjadi semakin menonjol. Mobil berbahan bakar bensin umumnya dapat menghabiskan biaya hingga Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan, jauh di atas rata-rata biaya energi yang ditawarkan lini kendaraan JAECOO.
Fenomena ini tidak lepas dari kondisi global, di mana harga minyak dunia sempat mendekati USD120 per barel pada Maret 2026, level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Dampaknya, biaya energi meningkat dan mendorong konsumen untuk lebih cermat dalam menghitung total biaya kepemilikan kendaraan, tidak hanya harga beli awal.
Secara global, tren kendaraan energi baru atau NEV juga terus menunjukkan pertumbuhan. Di sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Italia, dan Prancis, penjualan NEV pada Januari 2026 tercatat meningkat lebih dari 23 persen secara tahunan, dengan segmen plug-in hybrid tumbuh hampir 38 persen.
Tren serupa mulai terlihat di Indonesia. Konsumen kini semakin mempertimbangkan efisiensi energi sebagai faktor ekonomi, bukan sekadar isu lingkungan. Hal ini mendorong meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik dan hybrid yang menawarkan keseimbangan antara efisiensi, fleksibilitas, dan kenyamanan berkendara.
Selain menghadirkan efisiensi biaya, JAECOO Indonesia juga memperkuat jaringan layanannya dengan menghadirkan 25 dealer di berbagai wilayah, termasuk pembukaan terbaru di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Langkah ini sejalan dengan performa penjualan yang terus meningkat.
Berdasarkan data wholesales dari GAIKINDO pada Januari 2026, JAECOO J5 EV mencatat distribusi sebanyak 1.942 unit dan menjadi salah satu SUV listrik terlaris di Indonesia. Tren positif ini berlanjut pada Februari 2026 dengan tambahan 2.926 unit, sekaligus membawa JAECOO masuk dalam delapan besar merek mobil terlaris secara nasional.
Dengan kombinasi efisiensi biaya operasional, teknologi kendaraan energi baru, serta dukungan jaringan purna jual yang terus berkembang, JAECOO berupaya menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia yang semakin dinamis di tengah tantangan ekonomi global.