Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel mulai menjadi perhatian pelaku industri otomotif global, termasuk di Indonesia.
Manajemen BAIC Indonesia menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya industri otomotif, terutama dari sisi harga energi, logistik, hingga nilai tukar mata uang.
Chief Operating Officer BAIC Indonesia Dhani Yahya mengatakan, secara langsung konflik di kawasan Timur Tengah memang tidak berdampak langsung terhadap perilaku konsumen di Indonesia. Namun secara tidak langsung, dampaknya bisa terasa melalui rantai pasok global.
“Yang paling kami khawatirkan adalah jika terjadi gangguan jalur distribusi energi dunia, terutama di selat-selat strategis yang menjadi jalur tanker minyak,” ujar Dhani, di Tangerang Selatan belum lama ini.
Jika jalur distribusi minyak global terganggu, harga energi dunia berpotensi melonjak. Dampaknya, harga bahan bakar minyak (BBM) juga bisa mengalami kenaikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut Dhani, kondisi tersebut dapat memicu efek berantai bagi industri otomotif. Kenaikan harga BBM biasanya diikuti dengan peningkatan biaya logistik, inflasi, serta pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS.
“Kalau dolar naik, otomatis biaya pembelian kendaraan dari luar negeri juga meningkat. Karena sebagian besar komponen maupun kendaraan kita masih bergantung pada impor,” kata dia.
Saat ini sebagian produk BAIC yang dipasarkan di Indonesia masih berstatus CBU (Completely Built Up) atau didatangkan secara utuh dari luar negeri. Bahkan untuk kendaraan yang nantinya dirakit lokal sekalipun, sejumlah komponen masih berasal dari impor.
“Baik CBU maupun CKD sebenarnya tetap memiliki komponen impor. Jadi kalau terjadi gejolak global, dampaknya tetap terasa pada struktur biaya,” jelas Dhani.
Meski demikian, BAIC Indonesia menegaskan untuk sementara belum ada rencana menaikkan harga kendaraan di pasar domestik.
Perusahaan akan terlebih dahulu menyerap kenaikan biaya yang terjadi selama situasi masih bersifat sementara.
“Kalau hanya lonjakan jangka pendek, misalnya dua bulan, biasanya kami serap dulu. Karena kalau harga sudah dinaikkan, akan sulit menurunkannya kembali,” ujarnya.
Namun jika konflik berkepanjangan dan menimbulkan tekanan biaya yang berkelanjutan, penyesuaian harga kendaraan kemungkinan tidak bisa dihindari.
Dhani menambahkan, konflik geopolitik juga dapat menimbulkan dampak ekonomi lebih luas, seperti inflasi global serta gangguan perdagangan internasional.
Indonesia memang tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, namun hubungan perdagangan dengan negara-negara Timur Tengah dapat terpengaruh jika situasi semakin memburuk.
“Kegiatan ekonomi global bisa terganggu, termasuk perdagangan dan ekspor ke kawasan Timur Tengah,” katanya.
Bagi industri otomotif, ketidakpastian ekonomi biasanya akan memengaruhi daya beli masyarakat serta keputusan konsumen untuk membeli kendaraan baru.
Di tengah potensi ketidakpastian global tersebut, BAIC Indonesia tetap optimistis terhadap prospek pasar otomotif nasional.
Perusahaan menilai segmen kendaraan SUV berpenggerak empat roda (4×4) masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup besar di Indonesia.
Model seperti BAIC BJ40 dan BAIC BJ30 menjadi tulang punggung penjualan BAIC di segmen tersebut.
Selain menyasar konsumen individu dan komunitas off-road, kendaraan BAIC juga mulai digunakan oleh sejumlah instansi dan sektor industri, termasuk militer serta perusahaan tambang.
Meski kontribusi penjualan fleet masih relatif kecil, perusahaan melihat peluang pertumbuhan ke depan cukup menjanjikan.
Bagi BAIC Indonesia, strategi jangka panjang tetap diarahkan pada peningkatan kandungan lokal serta diversifikasi produk agar lebih tahan terhadap gejolak global.
“Yang penting bagi kami adalah menjaga stabilitas harga dan memastikan suplai kendaraan tetap tersedia untuk konsumen di Indonesia,” kata Dhani.