Layanan taksi otonom tanpa pengemudi bukan lagi sekadar konsep masa depan. Di sejumlah kota besar Amerika Serikat, armada robotaxi milik Waymo kini beroperasi setiap hari, mengangkut penumpang tanpa sopir di balik kemudi.
Namun di balik kemajuan teknologi kendaraan otonom tingkat tinggi tersebut, muncul ironi menarik di lapangan. Robotaxi canggih ternyata masih dapat “lumpuh” akibat persoalan sepele: pintu mobil yang tidak tertutup rapat.
Armada robotaxi Waymo saat ini sebagian besar menggunakan Jaguar I-Pace, SUV listrik yang dibekali sistem sensor mutakhir seperti kamera, radar, dan lidar untuk membaca lalu lintas perkotaan secara mandiri.
Namun sistem keselamatan kendaraan tersebut diprogram untuk tidak bergerak jika salah satu pintu tidak tertutup sempurna. Ketika penumpang turun dan meninggalkan pintu dalam kondisi setengah terbuka, mobil akan berhenti total dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, demi menghindari risiko kecelakaan atau cedera.
Situasi ini memperlihatkan bahwa teknologi otonom tingkat tinggi masih memiliki ketergantungan pada perilaku manusia yang paling dasar, demikian pengalaman dari Guessing Headlights.
Alih-alih langsung melakukan modifikasi mekanis, Waymo memilih solusi pragmatis. Di Atlanta, perusahaan dilaporkan bekerja sama dengan DoorDash, memanfaatkan pekerja gig economy untuk mendatangi robotaxi yang bermasalah dan sekadar menutup pintunya.
Sejumlah pengguna melaporkan, tugas singkat ini bisa menghasilkan bayaran lebih dari 10 dolar AS hanya untuk berjalan beberapa ratus meter dan menutup pintu kendaraan. Selain DoorDash, platform bantuan jalan raya juga disebut ikut terlibat dalam skema serupa.
Bagi perusahaan, pendekatan ini dinilai cepat dan fleksibel, memungkinkan armada tetap beroperasi sambil menunggu penyempurnaan teknologi jangka panjang.
Secara teknis, sistem kendaraan otonom dirancang dengan logika keselamatan yang ketat. Pintu terbuka dianggap sebagai potensi bahaya serius, sehingga sistem memilih berhenti total daripada mengambil risiko.
Ironisnya, teknologi yang mampu mendeteksi pejalan kaki dari jarak jauh belum bisa mengatasi kebiasaan penumpang yang lupa menutup pintu. Hal ini menegaskan bahwa tantangan utama kendaraan otonom bukan hanya kompleksitas lalu lintas, tetapi juga interaksi dengan perilaku manusia sehari-hari.
Waymo kini tengah bersiap beralih ke sistem otonom generasi keenam. Armada masa depan tidak lagi bergantung pada Jaguar I-Pace, melainkan menggunakan kendaraan yang sejak awal dirancang khusus untuk layanan otonom, seperti Zeekr RT serta model berbasis Hyundai Ioniq 5.
Platform baru ini diharapkan menghadirkan efisiensi lebih tinggi, biaya operasional lebih rendah, serta solusi atas kelemahan operasional yang muncul pada generasi sebelumnya, termasuk kemungkinan fitur penutup pintu otomatis.
Fenomena robotaxi yang masih membutuhkan manusia untuk tugas sederhana mungkin terdengar lucu, tetapi mencerminkan realitas penting dalam evolusi kendaraan otonom. Menggantikan pengemudi bukan sekadar soal teknologi mengemudi, melainkan kemampuan beradaptasi dengan kebiasaan manusia yang sering kali tidak terduga.