Pasar kendaraan listrik China membuka 2026 dengan sinyal perlambatan. Setelah bertahun-tahun tumbuh agresif, penjualan mobil, khususnya kendaraan energi baru (NEV)—mengalami tekanan signifikan di awal tahun. Kondisi ini mendorong produsen besar seperti BYD, Tesla, hingga Xiaomi mengubah strategi yaitu perang harga kini bergeser ke perang pembiayaan.
Alih-alih memangkas harga secara langsung, para pabrikan berlomba menawarkan kredit jangka panjang hingga tujuh tahun dengan bunga rendah, demi menjaga arus pembeli ke diler.
Pada 25 Februari 2026, jaringan penjualan Ocean Network milik BYD mengumumkan program pembiayaan agresif berupa kredit hingga tujuh tahun, uang muka nol, serta cicilan harian mulai 29 yuan. Program ini mencakup sejumlah model populer seperti Seal, Sealion, Dolphin, hingga Seagull, dan berlaku hingga akhir Maret 2026.
Langkah BYD tersebut mengikuti strategi serupa yang lebih dulu diperkenalkan oleh Tesla, Xiaomi EV, Nio, serta merek-merek di bawah payung Geely.
Tak hanya itu, sub-merek off-road BYD, Fangchengbao, juga meluncurkan skema pembiayaan tujuh tahun dengan bunga rendah mulai 1,5 persen, menyasar model Bao 5 jarak jauh dan seri Tai 7.
Gelombang promosi ini tidak lepas dari lemahnya performa pasar pada Januari 2026. Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan penjualan ritel mobil penumpang nasional hanya mencapai sekitar 1,54 juta unit, turun hampir 14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penjualan NEV—termasuk mobil listrik murni dan plug-in hybrid—turun lebih dalam, sekitar 20 persen secara tahunan, dengan tingkat penetrasi menyusut ke kisaran 38 persen. Penurunan juga dialami merek-merek lokal China, yang mencatat koreksi hampir 18 persen.
Di sisi lain, penjualan grosir NEV memang masih naik tipis secara tahunan, namun anjlok tajam dibanding Desember 2025, mencerminkan efek berakhirnya insentif pajak pembelian NEV pada akhir tahun lalu.
Data CPCA menunjukkan performa yang tidak merata di antara produsen. Volume grosir BYD pada Januari tercatat sekitar 205.500 unit, turun sekitar 30 persen secara tahunan, dengan penurunan tajam pada pengiriman mobil listrik murni.
Sebaliknya, pemain baru seperti Xiaomi EV dan Leapmotor justru mencatat pertumbuhan pengiriman dibanding tahun sebelumnya, menandakan dinamika persaingan yang kian kompleks di pasar NEV China.
Analis menilai perlambatan awal tahun dipengaruhi kombinasi faktor musiman, pergeseran waktu libur Tahun Baru Imlek, serta berakhirnya insentif fiskal. Namun di tengah daya beli yang melemah, pembiayaan jangka panjang berbunga rendah kini menjadi alat utama produsen untuk mempertahankan momentum penjualan.
Strategi ini dinilai lebih “halus” dibanding pemangkasan harga langsung, sekaligus membantu produsen menjaga nilai merek di tengah persaingan yang semakin brutal.
Kuartal pertama 2026 pun diprediksi akan menjadi ajang uji ketahanan industri otomotif China—apakah perang pembiayaan cukup kuat untuk menahan laju perlambatan, atau justru memicu babak baru persaingan yang lebih ekstrem.