Para ilmuwan China berhasil mengembangkan jenis baterai lithium baru yang diklaim mampu menggandakan jarak tempuh mobil listrik (EV) tanpa menambah ukuran atau berat baterai. Temuan ini bisa menjadi lompatan besar bagi industri kendaraan listrik global.
Baterai lithium, yang saat ini banyak digunakan pada mobil listrik, bekerja melalui reaksi kimia antara garam lithium dan oksigen dalam pelarut. Reaksi ini memungkinkan ion lithium bergerak melalui elektrolit untuk menghasilkan arus listrik.
Namun, sistem ini memiliki beberapa keterbatasan memerlukan banyak pelarut, sehingga sulit dibuat lebih kecil, kinerja buruk pada suhu rendah, membatasi penggunaannya di wilayah dingin, serta endekati batas teoritis energi sekitar 350 watt-jam per kg, membuat banyak produsen EV beralih ke baterai solid-state.
Penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature menunjukkan bahwa baterai baru ini mampu mencapai densitas energi lebih dari 700 Wh/kg pada suhu ruang dan hampir 400 Wh/kg pada suhu -50°C.
Rahasia inovasi ini terletak pada penggunaan pelarut hidrokarbon terfluorinasi, yang menggantikan model lithium-oksigen tradisional. Pelarut ini memungkinkan garam lithium larut lebih efisien, mempercepat transfer ion, dan mengurangi jumlah elektrolit yang dibutuhkan.
Profesor Zhao Qing dari Universitas Nankai menjelaskan, “Elektrolit harus bisa melepaskan ion dengan cepat sekaligus memungkinkan transfer muatan cepat, dua hal yang biasanya saling bertentangan. Fluorin yang lebih lemah tarikannya pada lithium membantu menyelesaikan masalah ini.”
Menurut Chen Jun, penulis utama penelitian, baterai baru ini bisa menggandakan kapasitas baterai lithium saat ini.
“Mobil listrik dengan jarak tempuh 500 km bisa menempuh lebih dari 1.000 km dengan satu kali pengisian menggunakan baterai kami,” kata Chen, dikutip dari CCTV, yamg juga dilansir dari Independent, Rabu (04/03/2026).
Baterai ini tidak hanya efisien pada suhu ruang, tetapi juga mampu bekerja di lingkungan sangat dingin hingga -50°C, membuka peluang untuk digunakan di kendaraan listrik dan drone yang beroperasi di dataran tinggi atau wilayah bersalju.
Temuan ini menjembatani performa baterai lithium konvensional dengan baterai solid-state, yang selama ini dianggap sebagai solusi masa depan untuk jarak tempuh panjang.
Dengan teknologi ini, produsen mobil listrik dapat meningkatkan efisiensi kendaraan tanpa menambah ukuran baterai, mengurangi biaya, dan memperluas jangkauan pasar di wilayah dengan iklim ekstrem.
Jika temuan ini bisa segera diaplikasikan, maka misalkan sebuah EV di Indonesia memiliki baterai 60 kWh dan jarak tempuh rata-rata 400 km per pengisian (standar EV saat ini).
Dengan baterai baru ini kapasitas efektif bisa meningkat dua kali lipat → jarak tempuh hingga 800 km per pengisian. Selain itu Biaya listrik untuk menempuh jarak yang sama berpotensi turun hingga 50%, karena pengisian lebih jarang dilakukan.
Biaya tarif listrik juga akan lebih irit. Tarif listrik rumah tangga PLN rata-rata Rp1.500/kWh, maka dengan pengisian dengan baterai baru, 60 kWh bisa menempuh 800 km, sehingga biaya per 100 km turun dari Rp22.500 menjadi Rp11.250.