Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya membela keputusan melancarkan perang terbuka terhadap Iran dalam pernyataan publik terpanjangnya sejak operasi militer itu dimulai akhir pekan lalu.
Dalam kemunculan di Gedung Putih pada Senin waktu setempat, Trump menegaskan bahwa serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel diperlukan untuk mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir dan memperkuat program rudal balistik jarak jauh, meski tujuan serta durasi operasi terus mengalami perubahan sejak hari pertama.
“Kita sudah jauh melampaui proyeksi waktu yang kita tetapkan. Tetapi berapa pun waktunya, tidak masalah. Apa pun yang diperlukan,” kata Trump di hadapan awak media. Ia menambahkan bahwa ancaman dari Iran tidak bisa dianggap remeh.
“Rezim Iran yang dipersenjatai dengan rudal jarak jauh dan senjata nuklir akan menjadi ancaman yang tak tertahankan bagi Timur Tengah, dan juga bagi rakyat Amerika,” lanjutnya seperti dilansir Mashable Indonesia dari Reuters.
Operasi militer yang dimulai pada Sabtu tersebut sebelumnya disebut-sebut akan berlangsung sekitar empat hingga lima pekan. Namun dalam pernyataan terbarunya, Trump membuka peluang bahwa serangan dapat berjalan lebih lama sampai seluruh target strategis tercapai.
Dalam unggahan media sosial yang dipublikasikan semalam, ia bahkan menyebut Amerika memiliki persediaan amunisi yang nyaris tak terbatas dan menyatakan bahwa perang bisa diperangi selamanya, dan dengan sangat berhasil, hanya dengan menggunakan persediaan ini.
Menurut klaim Washington, kampanye udara itu telah menghantam lebih dari 1.000 sasaran militer, menenggelamkan sedikitnya 10 kapal perang Iran, serta menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di sisi lain, Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Arab di kawasan serta memperketat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global.
Meski Trump kini menekankan pencegahan nuklir sebagai tujuan utama, pernyataannya dalam beberapa hari terakhir memunculkan spekulasi soal perubahan rezim.
Saat pertama kali mengumumkan serangan, ia menyerukan kepada rakyat Iran untuk merebut kembali negara kalian, yang ditafsirkan sejumlah pihak sebagai sinyal dukungan terhadap pergantian pemerintahan di Teheran. Namun dalam penampilan terbarunya, ia tidak lagi secara eksplisit menyinggung agenda tersebut.
Di tengah sorotan terhadap konsistensi pesan Gedung Putih, Sekretaris Pers Karoline Leavitt membantah bahwa pemerintah mengirimkan sinyal yang membingungkan.
Melalui platform X, ia menegaskan bahwa presiden telah menetapkan tujuan yang jelas, termasuk mencegah proksi Iran melancarkan serangan terhadap kepentingan Amerika dan menghentikan produksi bom rakitan yang sebelumnya digunakan untuk menyerang pasukan AS pascainvasi Irak 2003.
Pernyataan berbeda justru datang dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang berbicara di Kongres. Ia menyiratkan bahwa langkah Washington tidak sepenuhnya berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi rencana aksi Israel.
“Presiden membuat keputusan yang sangat bijaksana, kami tahu akan ada tindakan dari Israel, kami tahu itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu bahwa jika kami tidak bertindak lebih dulu sebelum mereka meluncurkan serangan itu, kami akan mengalami korban yang lebih besar,” ujar Rubio.
Perbedaan penekanan ini memicu perdebatan di kalangan analis dan legislator mengenai arah sebenarnya dari strategi Gedung Putih. Dalam pemberitahuan resmi kepada Kongres yang diperoleh Reuters, Trump tidak mencantumkan batas waktu operasi.
Meskipun Amerika Serikat menginginkan perdamaian yang cepat dan berkelanjutan, saat ini tidak mungkin untuk mengetahui sepenuhnya cakupan dan durasi operasi militer yang mungkin diperlukan,” demikian pernyataan Trump.
Pengamat kebijakan Timur Tengah dari Center for Strategic and International Studies, Jon Alterman, menilai sikap tersebut menunjukkan bahwa pemerintah sengaja tidak mengikat diri pada satu skenario akhir.
“Saya tidak yakin mereka berkomitmen pada hasil tertentu,” kata Alterman, merujuk pada belum jelasnya apakah operasi ini bertujuan murni membatasi kapasitas militer Iran atau mendorong perubahan politik yang lebih luas.
Perbandingan pun muncul dengan langkah Trump sebelumnya. Dalam konflik singkat antara Israel dan Iran pada Juni lalu yang berlangsung 12 hari, presiden segera menyampaikan pidato resmi didampingi pejabat senior keamanan nasional.
Sementara dalam operasi terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, awal tahun ini, Trump menggelar konferensi pers dalam hitungan jam di Mar-a-Lago dan pejabat pemerintahan aktif tampil di berbagai program televisi untuk menjelaskan kebijakan tersebut.
Berbeda dengan pola itu, kali ini pejabat senior Gedung Putih tidak tampil dalam program politik Minggu pagi. Seorang pejabat menyebut langkah tersebut diambil untuk menghindari narasi yang saling tumpang tindih dan menjaga Trump sebagai penyampai pesan utama.
Pejabat lain menegaskan bahwa poin-poin pembicaraan sebenarnya sudah disebarkan sejak Sabtu dan koordinasi dengan anggota parlemen Partai Republik tetap berjalan intensif.
Dengan eskalasi yang terus berlangsung dan respons balasan dari Iran yang berpotensi meluas, perhatian dunia kini tertuju pada sejauh mana konflik ini akan berkembang. Ketidakpastian mengenai durasi operasi, ditambah perbedaan nada dalam komunikasi pejabat Amerika, membuat arah akhir perang masih sulit diprediksi.
Namun satu hal yang ditegaskan Trump adalah komitmen untuk melanjutkan operasi hingga tujuan yang ia sebut sebagai perlindungan keamanan nasional Amerika benar-benar tercapai.