Peta industri otomotif Asia Tenggara berubah signifikan. Untuk pertama kalinya sejak satu dekade terakhir, Malaysia berhasil menyalip Indonesia sebagai pasar mobil terbesar di kawasan pada 2025, didorong permintaan domestik yang solid dan akselerasi elektrifikasi kendaraan.
Kompilasi data penjualan lima pasar otomotif utama ASEAN oleh Nikkei Asia menunjukkan penjualan mobil Malaysia sepanjang 2025 mencapai 820.752 unit, naik tipis 0,5 persen secara tahunan. Sebaliknya, Indonesia mencatat penurunan 7,2 persen menjadi 803.687 unit. Ini menjadi pertama kalinya posisi puncak berpindah sejak Indonesia menggeser Thailand pada 2014.
Kinerja Malaysia terlihat semakin mencolok jika dibandingkan dengan periode pascapandemi. Sejak 2020, ukuran pasar otomotif Malaysia tumbuh 61 persen, dari 508.883 unit menjadi lebih dari 820 ribu unit pada 2025—pertumbuhan tertinggi kedua di ASEAN setelah Filipina.
Presiden Malaysian Automotive Association (MAA), Mohd Shamsor Mohd Zain, menyebut pencapaian ini ditopang oleh permintaan domestik yang resilien serta kondisi pembiayaan yang kondusif, di tengah tekanan ekonomi global.
Dari sisi merek, Perodua tetap menjadi penguasa pasar dengan penjualan 359.904 unit, menembus angka 300 ribu unit untuk tahun ketiga berturut-turut. Proton berada di posisi kedua dengan 151.564 unit, naik 2,7 persen, meski jarak dengan Perodua kian melebar.
Dua tren besar mengubah wajah pasar mobil Malaysia. Pertama, pergeseran permintaan dari sedan ke SUV. Penjualan SUV tumbuh 13 persen menjadi 228.572 unit sepanjang 2025.
Kedua, akselerasi elektrifikasi. Gabungan penjualan hybrid dan battery electric vehicle (BEV) melonjak 52 persen, dengan penjualan BEV lebih dari dua kali lipat. Meski porsinya baru 8,45 persen dari total pasar, pertumbuhan ini menjadi lapisan baru di atas pasar massal yang sudah matang.
Peluncuran Proton e.MAS 5, model EV nasional dengan harga terjangkau, turut mendorong permintaan. Analis MBSB Research, Amalia Zarir, menilai lonjakan penjualan terbaru dipicu oleh efek limpahan dari model baru tersebut.
Indonesia Tertahan, Insentif Jadi Penopang
Meski turun peringkat, Indonesia tetap mencatat penjualan di atas target asosiasi industri sebesar 780 ribu unit. Namun, sejumlah produsen menilai capaian ini banyak ditopang oleh insentif pajak kendaraan listrik, yang mendorong pembelian EV—terutama dari merek China.
Penjualan ritel Toyota melalui Toyota-Astra Motor tercatat 260.400 unit, sedikit turun dibanding tahun sebelumnya. Mitsubishi, Honda, dan Suzuki juga mencatatkan pelemahan.
“Masuknya banyak model dari pabrikan China memperluas pilihan konsumen dan memperketat persaingan,” ujar Direktur Penjualan dan Pemasaran Honda Prospect Motor, Ryo Asaoka.
Di Vietnam, lonjakan penjualan EV mengerek posisi pasar otomotif nasional. Produsen lokal VinFast membukukan penjualan 175 ribu unit, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya, membuat Vietnam melampaui Filipina dan naik ke posisi keempat ASEAN.
Sementara itu, Singapura menunjukkan kontras tajam. BYD menjadi merek terlaris sepanjang 2025 dengan 11.184 unit dan pangsa pasar 21,2 persen, di tengah penetrasi EV yang mencapai 45 persen—tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut.
Lonjakan ini ditopang infrastruktur pengisian daya yang agresif, dengan sekitar 28 ribu titik pengisian hingga akhir 2025, serta insentif pemerintah yang masih berlaku hingga 2026.
Meski unggul di 2025, prospek Malaysia tahun ini dinilai lebih hati-hati. Hong Leong Investment Bank memproyeksikan penjualan 2026 turun menjadi 780 ribu unit, seiring normalisasi antrean pesanan dan berakhirnya pembebasan cukai untuk EV.