Upacara Konklaf di Kota Vatikan yang memilih Paus Leo XIV pada 7-8 Mei 2025 lalu ternyata sempat diwarnai insiden serius yang bisa dibilang melanggar aturan.
Sebuah buku terbaru mengungkap bahwa seorang kardinal kedapatan membawa ponsel aktif ke dalam Kapel Sistina, lokasi sakral sekaligus tertutup yang menjadi tempat berlangsungnya pemilihan pemimpin baru Gereja Katolik dunia.
Penemuan itu disebut sebagai pelanggaran keamanan besar dalam salah satu proses pemilihan paling rahasia di dunia.
Fakta mengejutkan tersebut diungkap dalam buku berjudul The Election of Pope Leo XIV yang ditulis dua koresponden senior Vatikan, Gerard O’Connell dan Elisabetta Pique.
Buku itu merinci momen ketika sinyal telepon seluler terdeteksi tepat saat 133 kardinal bersiap memberikan suara pertama mereka di Sistine Chapel.
Menurut penuturan dalam buku tersebut, kapel bersejarah itu telah dipasangi perangkat pengacak sinyal untuk memastikan tidak ada komunikasi dengan dunia luar selama konklaf berlangsung.
Namun, aparat keamanan tetap menangkap adanya sambungan seluler aktif. Situasi itu sontak membuat para kardinal saling berpandangan dengan ekspresi tak percaya.
Tak lama kemudian, seorang kardinal senior menyadari bahwa ia masih menyimpan telepon genggam di sakunya. Ia segera menyerahkan perangkat tersebut.
Buku itu tidak menyebutkan identitas kardinal yang dimaksud, juga tidak menyiratkan adanya niat tertentu. Penulis menggambarkan momen itu membuat sang kardinal bingung dan tertekan.
O’Connell dan Pique menyebut insiden tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah konklaf modern. Mereka menulis adegan itu sebagai peristiwa yang tak terbayangkan bahkan untuk sebuah film dan belum pernah terjadi dalam sejarah konklaf modern. Pernyataan tersebut menegaskan betapa serius dan langkanya pelanggaran tersebut dalam tradisi Gereja Katolik.
Menariknya, peristiwa ini muncul di tengah bayang-bayang film Conclave yang sempat populer pada 2024 dan menggambarkan intrik dramatis dalam pemilihan paus fiktif. O’Connell bahkan mengatakan kepada Reuters bahwa kenyataan justru lebih mengejutkan daripada kisah layar lebar.
“Kenyataan lebih hebat daripada fiksi,” ujarnya.
Dalam aturan resmi Vatikan, setiap kardinal yang mengikuti konklaf wajib mengucapkan sumpah untuk tidak berkomunikasi dengan siapa pun di luar proses pemilihan.
Semua perangkat komunikasi, termasuk ponsel, harus diserahkan sebelum konklaf dimulai. Pelanggaran terhadap aturan ini dipandang sebagai ancaman serius terhadap kerahasiaan pemilihan.
Konklaf yang berlangsung selama dua hari itu digelar untuk memilih penerus Pope Francis yang wafat pada April 2025 setelah 12 tahun memimpin sekitar 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Sorotan global tertuju pada proses tersebut, terutama karena konklaf kali ini menjadi yang paling beragam secara geografis dalam sejarah, dengan kardinal dari 70 negara ikut serta.
Sebelum pemungutan suara dimulai, spekulasi berkembang bahwa paus baru berpotensi berasal dari Asia atau Afrika. Namun, buku tersebut mengungkap bahwa tidak satu pun kandidat dari kedua kawasan itu berhasil mengumpulkan dukungan signifikan.
Dua nama langsung mengemuka sebagai kandidat terkuat. Yang pertama adalah Kardinal Italia Pietro Parolin, pejabat senior Vatikan yang sejak awal disebut-sebut sebagai favorit. Nama kedua adalah Kardinal asal Amerika Serikat, Robert Prevost, sosok yang relatif kurang dikenal publik luas, tetapi memiliki rekam jejak kuat di lingkungan internal Gereja.
Berdasarkan informasi yang dihimpun penulis dari wawancara dengan sejumlah kardinal peserta, pada pemungutan suara pertama yang digelar pada malam 7 Mei, Prevost telah meraih antara 20 hingga 30 suara. Jumlah itu dinilai signifikan untuk tahap awal konklaf, ketika biasanya suara masih terpecah.
Sementara itu, Kardinal Filipina Luis Antonio Tagle yang sebelumnya juga digadang sebagai kandidat kuat, disebut tidak pernah memperoleh lebih dari 10 suara sepanjang proses berlangsung.
Pada pemungutan suara keempat yang digelar sore 8 Mei, Prevost akhirnya mengamankan 108 suara, memastikan dirinya terpilih sebagai Paus Leo XIV sekaligus menjadi paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat.
Buku tersebut juga mengungkap momen personal menjelang pengumuman hasil akhir, ketika Tagle yang duduk di samping Prevost menawarkan permen pelega tenggorokan untuk membantu meredakan suaranya.
Hingga kini, kantor pers Vatikan belum memberikan tanggapan resmi terkait isi buku tersebut. Namun, pengungkapan ini menambah lapisan baru dalam sejarah konklaf, memperlihatkan bahwa bahkan dalam proses yang sangat tertutup sekalipun, faktor manusia tetap bisa menghadirkan kejutan yang tak terduga.