Kualitas mobil listrik murah kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah unit VinFast VF3 dilaporkan mengalami kerusakan serius usai melintasi lubang jalan. Insiden tersebut ramai diperbincangkan di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram hujat_mobil_, yang mempertanyakan ketahanan komponen kaki-kaki mobil listrik seharga sekitar Rp230 juta tersebut.
Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa VF3 kehilangan kendali setelah melintasi lubang jalan yang dinilai tidak terlalu dalam di ruas tol yang dikelola Jasa Marga. Akibatnya, salah satu arm atau swing arm roda depan dilaporkan patah, membuat kendaraan melintir dan menghantam pembatas jalan di sisi kiri.
“Kecepatan normal, lubang tidak terlalu dalam, tapi arm langsung patah. Ini yang bikin mobil kehilangan kendali,” tulis pengunggah dalam keterangannya.
Unggahan tersebut memicu perdebatan di kalangan warganet. Sebagian menilai kondisi jalan berlubang menjadi faktor utama kecelakaan, namun tak sedikit pula yang mempertanyakan kualitas komponen suspensi VF3, mengingat mobil tersebut dipasarkan sebagai kendaraan baru dengan harga ratusan juta rupiah.
Lebih lanjut, pemilik kendaraan mengaku hingga kini belum mendapat kepastian terkait ketersediaan suku cadang pengganti. Pihak dealer bahkan menyarankan agar kerusakan tersebut diklaim melalui asuransi, bukan garansi kendaraan.
Hal ini menimbulkan kekecewaan, karena kerusakan arm suspensi tidak masuk dalam cakupan garansi pabrikan. “Sampai sekarang belum ada informasi kapan spare part datang. Dealer bilang lebih aman klaim asuransi,” tulis pengunggah.
Kasus Serupa
Mirisnya, keluhan terhadap VF3 tak berhenti di satu kasus. Seorang pelanggan lain yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan pengalaman berbeda namun dengan tingkat kekecewaan serupa. Kepada Mashable Indonesia, ia mengaku mobil VF3 miliknya mengalami kerusakan sistem setelah melewati genangan banjir setinggi setengah ban.
“Setelah lewat banjir. Sempat terendam dan semua sistem langsung error. Mobil harus diderek towing ke dealer di Depok,” ujarnya.
Namun, penanganan di dealer disebut jauh dari harapan. Mobil tersebut diklaim tidak mendapatkan perbaikan berarti selama hampir satu bulan, bahkan air yang masuk ke kabin hingga jok tidak segera dibersihkan. Akibatnya, kabin mobil berbau apek.
Pihak bengkel dan dealer disebut mengakui keterbatasan kemampuan teknis, khususnya untuk membongkar dan menangani komponen inti mobil listrik. Konsumen pun disarankan berkoordinasi dengan pihak asuransi dan membawa kendaraan ke bengkel lain yang lebih berpengalaman menangani EV.
Setelah diperiksa di bengkel non-resmi yang memiliki kompetensi menangani mobil listrik, ditemukan adanya kerusakan pada mesin utama dengan estimasi biaya perbaikan yang sangat tinggi. Kondisi tersebut akhirnya membuat kendaraan dinyatakan Total Loss Only (TLO) oleh pihak asuransi.
“Mobil baru dipakai beberapa kali, tapi akhirnya TLO. Dana yang kembali cuma sekitar 60 persen,” keluh konsumen tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari VinFast Indonesia terkait kasus di atas tersebut.