Selama ini, perbincangan soal kemacetan di Malaysia hampir selalu berputar pada jumlah mobil pribadi yang membludak. Data menunjukkan, tahun lalu saja ada rekor 820.752 mobil baru yang didaftarkan. Tapi, benarkah hanya mobil biang keladinya?
Pakar transportasi dari Universiti Putra Malaysia (UPM) angkat bicara. Ia menyoroti faktor lain yang selama ini luput dari perhatian publik dan pemerintah yaitu jumlah sepeda motor yang sangat tinggi. Menurutnya, ini adalah “dosa tersembunyi” yang ikut menyumbang kemacetan parah di jalan raya.
Rektor UPM, Datuk Prof Ir Dr Ahmad Farhan Mohamad Sadullah, dalam wawancara dengan Astro Awani mengungkapkan pandangan yang sedikit berbeda. Ia setuju bahwa pengguna mobil perlu dialihkan ke transportasi umum. Namun, ia menilai ada langkah yang lebih mendesak dan sering terlupakan.
“Kita punya sedikit masalah dibanding negara lain karena transportasi pribadi kita juga mencakup sepeda motor, dan jumlahnya sangat besar,” ujar Ahmad Farhan.
Ia menjelaskan, sepeda motor juga mengganggu kapasitas jalan dan mempengaruhi tingkat kemacetan.
“Itu masalah yang perlu kita pahami dan selesaikan. Sekarang kita banyak bicara soal pengguna mobil – itu terlalu jauh. Saya rasa pengendara motor lah yang pertama-tama perlu dialihkan ke transportasi umum.”
Tantangan terbesar, menurut Ahmad Farhan, adalah keunggulan alami sepeda motor yang tidak dimiliki mobil yaitu kemampuan untuk “cilok” atau menyelip di antara kendaraan. Kelincahan ini membuat pengendara motor enggan beralih ke bus atau kereta api, karena mereka merasa perjalanan justru akan lebih lambat.
Lantas, apa solusinya? Ahmad Farhan mendorong agar pemerintah mulai serius memikirkan “faktor pendorong” (push factor). Artinya, membuat biaya dan kenyamanan menggunakan motor pribadi menjadi tidak lagi menarik dibandingkan naik transportasi umum.
“Ini soal bagaimana kita memastikan bahwa generalised cost of travel (biaya perjalanan secara keseluruhan, termasuk waktu dan kenyamanan) membuat kelompok berpenghasilan menengah dan rendah merasa tidak punya pilihan selain menggunakan transportasi umum,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa alternatif transportasi umum sebenarnya sudah tersedia. Namun, daya tariknya masih kalah jauh dengan fleksibilitas sepeda motor.
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Transportasi yang dipimpin Anthony Loke, memang saat ini fokus pada peningkatan kualitas transportasi umum. Namun, upaya itu mungkin belum cukup jika tidak dibarengi dengan kebijakan yang secara langsung “menggoda” pengendara motor untuk pindah haluan.
Pernyataan ini membuka diskusi baru yang lebih kompleks. Selama ini, kemacetan selalu diidentikkan dengan mobil dan kurangnya jalan tol baru. Padahal, di negara dengan kepadatan sepeda motor tertinggi di Asia ini, para pengendara roda dua adalah aktor utama di jalanan.
Wacana ini tentu langsung memantik perdebatan sengit di dunia maya. Sebagian setuju bahwa motor memang ikut menyumbat jalan, terutama di lampu merah atau saat mereka memenuhi badan jalan. Namun, sebagian besar lainnya menilai, sulit sekali mengharapkan pengendara motor beralih ke transportasi umum selama kondisi bus dan kereta api belum nyaman, aman, dan menjangkau hingga ke pintu rumah mereka.