Band blackened death metal asal Polandia, Behemoth, resmi membatalkan konser mereka di India yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Maret setelah muncul ancaman keamanan serius.
Keputusan itu diambil menyusul adanya tekanan dan intimidasi yang disebut berasal dari kelompok Kristen religius, sehingga pihak band menilai keselamatan personel tidak dapat dijamin.
Melalui pernyataan resmi di media sosial, Behemoth mengungkap bahwa situasi telah berkembang selama beberapa minggu terakhir dan melibatkan banyak pihak, termasuk otoritas setempat serta promotor acara. Mereka menyebut ancaman yang diterima bukan sekadar rumor, melainkan sesuatu yang cukup nyata.
“Dalam beberapa minggu terakhir, kami dan tim kami menerima banyak ancaman kredibel yang berasal dari kelompok Kristen religius yang menekan pihak berwenang dan promotor dalam upaya menghentikan konser ini,” tulis band tersebut.
Mereka menegaskan ancaman tersebut berdampak langsung pada aspek keselamatan. “Ancaman-ancaman ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait keselamatan dan keamanan band, termasuk kemungkinan penangkapan atau bahaya fisik,” lanjut pernyataan itu.
Behemoth juga menekankan bahwa promotor lokal tidak dapat disalahkan atas pembatalan acara. Menurut mereka, pihak penyelenggara justru telah berusaha maksimal agar konser tetap berlangsung. Namun hingga mendekati jadwal pertunjukan, tidak ada jaminan perlindungan hukum maupun keamanan bagi para personel.
“Kami telah berkomunikasi intens dengan promotor lokal selama proses ini. Kami ingin menegaskan bahwa pembatalan ini bukan kesalahan promotor, yang telah bertindak dengan itikad baik di setiap tahap.”
“Meski ada upaya sungguh-sungguh, tidak mungkin memperoleh jaminan yang cukup bahwa band akan terlindungi dari konsekuensi hukum atau risiko keamanan. Atas dasar itu, kami memutuskan untuk membatalkan konser,” tulis mereka.
Kasus di India ini bukan yang pertama bagi Behemoth. Sebelumnya, grup yang digawangi Adam “Nergal” Darski itu juga pernah menghentikan jadwal tur di Turki karena tekanan serupa. Saat itu karya mereka dituding sebagai propaganda satanis oleh sejumlah kelompok religius.
Menanggapi situasi terbaru, Behemoth menilai kejadian tersebut sebagai bentuk pembatasan terhadap kebebasan berkarya.
“Ini adalah contoh lain dari fanatisme agama yang berusaha memaksakan diri terhadap ekspresi artistik, sesuatu yang baru-baru ini juga kami hadapi di Turki,” tulis mereka.
Band tersebut bahkan menyatakan kekhawatiran lebih luas terhadap tren global.
“Sangat mengkhawatirkan melihat apa yang terasa seperti gerakan sensor yang semakin berkembang di seluruh dunia. Di era modern ini, seniman seharusnya tidak menghadapi intimidasi, ancaman, atau risiko dipenjara karena menampilkan karya mereka.”
Dalam pesan penutupnya, Behemoth menyampaikan permintaan maaf kepada penggemar di India yang sudah menantikan konser tersebut.
“Terlepas dari agama, ras, atau budaya, kebebasan berekspresi harus tetap menjadi prinsip mendasar. Kami percaya penting bagi orang-orang untuk berdiri bersama mendukung nilai-nilai kebebasan dan kebebasan berkarya.”
“Untuk para penggemar kami di India, kami sangat kecewa tidak bisa tampil untuk kalian kali ini. Kami menghargai dukungan kalian dan berharap bisa segera kembali. Tetap kuat. Tetap bebas.”
Vokalis Nergal sendiri memang kerap berhadapan dengan isu hukum dan kontroversi terkait tema religi dalam karya Behemoth. Tahun lalu, ia menyatakan keadilan ‘telah ditegakkan’ setelah pengadilan Polandia membebaskannya dari tuduhan menyinggung perasaan keagamaan.
Kasus serupa pernah terjadi pada 2021 ketika ia didenda lebih dari £3.000 karena menginjak karya seni bergambar Perawan Maria dan mengunggahnya ke media sosial.
Jauh sebelumnya, pada 2010, Nergal juga diadili karena merobek Alkitab di atas panggung, namun akhirnya dinyatakan tidak bersalah. Bahkan pada 2019, ia sempat diusir dari pusat kebugaran YMCA di Amerika Serikat karena tidak mempraktikkan ibadah Kristen.
Di tengah berbagai kontroversi tersebut, Behemoth tetap produktif. Pada 2025 mereka merilis album studio ke-13 bertajuk The Shit Ov God melalui Nuclear Blast Records.
Mengenai judul yang memancing perdebatan, Nergal menjelaskan, “Kami sengaja memilih judul provokatif ini, menolak kesan halus demi pernyataan yang langsung dan memecah belah. Ini adalah terjunan menantang ke kedalaman, berani mencari yang absolut bahkan di tempat paling kotor.”
Pembatalan konser Behemoth di India menambah daftar panjang persoalan yang dihadapi band tersebut di berbagai negara. Di satu sisi, mereka memiliki basis penggemar global yang besar, namun di sisi lain tema artistik dan citra panggung yang ekstrem kerap memicu reaksi keras dari kelompok keagamaan maupun otoritas setempat.