Krisis politik Peru kembali memanas setelah Kongres negara tersebut secara resmi memberhentikan Presiden Jose Jeri pada Selasa (17/02/26) waktu setempat.
Mirisnya, Jeri baru empat bulan menjabat, namun langsung kehilangan kursi kepresidenan menyusul kontroversi pertemuan yang tidak dilaporkan dengan seorang pengusaha asal China. Pencopotan itu sekaligus memperpanjang catatan pergantian pemimpin yang sangat cepat di negara Amerika Selatan tersebut.
Keputusan diambil melalui mosi sensor dengan suara mayoritas sederhana di parlemen. Sebelum pemungutan suara dilakukan, Jeri telah memberi sinyal akan menerima hasilnya.
Ia mengatakan akan menghormati hasil pemungutan suara mosi sensor, meskipun sebelumnya ia dan para pendukungnya berpendapat proses yang tepat seharusnya melalui sidang pemakzulan, bukan mekanisme censure Kongres.
Dengan keputusan itu, Peru kini bersiap memiliki presiden baru lagi. Pengganti Jeri nantinya akan menjadi kepala negara kedelapan hanya dalam rentang sekitar delapan tahun. Jeri sendiri menjadi presiden ketiga berturut-turut yang dilengserkan dari jabatannya, menegaskan betapa rapuhnya stabilitas politik di negara tersebut.
Situasi semakin rumit karena Ketua Kongres Fernando Rospigliosi, yang berada dalam garis suksesi, menolak mengambil alih jabatan presiden. Konsekuensinya, parlemen harus lebih dulu memilih ketua baru, dan orang itulah yang kemudian akan menjadi kepala negara.
Skema ini mengingatkan pada peristiwa 2020 ketika Francisco Sagasti naik ke kursi presiden setelah Kongres memilihnya di tengah krisis politik dan gelombang demonstrasi besar.
Serangkaian pergantian kekuasaan yang cepat memang telah menjadi ciri politik Peru selama hampir satu dekade terakhir. Sejak pertengahan 2016, negara itu telah dipimpin tujuh presiden dengan berbagai akhir masa jabatan, mulai dari pengunduran diri, pemakzulan, hingga tekanan publik.
Pedro Pablo Kuczynski, yang memimpin pada 2016 hingga 2018, memilih mundur sebelum proses pemakzulan rampung. Setelah itu, Martin Vizcarra mengambil alih kekuasaan dan memerintah hingga 2020, sebelum akhirnya juga dicopot Kongres melalui pemakzulan.
Krisis mencapai puncak ketika Manuel Merino dilantik pada 10 November 2020. Masa jabatannya hanya bertahan lima hari.
Demonstrasi besar-besaran terjadi di berbagai kota, memaksa Merino mengundurkan diri. Kekosongan kepemimpinan kemudian diisi oleh Francisco Sagasti sebagai presiden sementara dari November 2020 sampai Juli 2021 untuk meredakan ketegangan nasional.
Namun pergantian cepat tidak berhenti di sana. Pedro Castillo memimpin sejak Juli 2021 hingga Desember 2022. Ia diberhentikan setelah mencoba membubarkan Kongres dan kini ditahan di Lima menghadapi tuduhan pemberontakan dan korupsi.
Posisinya kemudian diisi Dina Boluarte yang menjabat hampir tiga tahun, sebelum akhirnya dimakzulkan parlemen pada Oktober 2025 setelah berbagai kontroversi dan penyelidikan terkait penanganan aksi protes.
Jose Jeri lalu dilantik pada 10 Oktober 2025 sebagai presiden baru. Namun masa kepemimpinannya bahkan tidak mencapai setengah tahun. Tuduhan korupsi dan pertemuan yang tidak dilaporkan dengan pengusaha China memicu tekanan politik besar hingga Kongres menjatuhkan mosi sensor.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan pola yang konsisten: hampir setiap pemerintahan berakhir sebelum menyelesaikan masa jabatan. Pergantian cepat tidak hanya dipicu konflik antara presiden dan parlemen, tetapi juga kombinasi skandal, tekanan publik, serta krisis legitimasi.
Analis politik di kawasan Amerika Latin menilai kondisi ini menciptakan ketidakpastian kebijakan jangka panjang. Setiap pergantian kepemimpinan membuat agenda ekonomi dan sosial kerap berubah arah, sementara investor dan masyarakat menghadapi situasi yang sulit diprediksi.
Dalam satu dekade, Peru praktis mengalami siklus berulang: presiden dilantik, konflik politik memanas, lalu jabatan berakhir lebih cepat dari seharusnya.
Dengan Jeri menjadi presiden terbaru yang dilengserkan, negara tersebut kembali memasuki fase transisi. Hingga kini, belum ada jaminan bahwa pemimpin berikutnya akan mampu bertahan lebih lama dibanding para pendahulunya.