Barack Obama akhirnya menanggapi secara tidak langsung beredarnya video bernuansa rasis yang diunggah di akun media sosial Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam sebuah podcast yang dirilis Sabtu waktu setempat, mantan presiden AS ke-44 itu menilai standar etika pejabat publik di Amerika mengalami kemerosotan, sembari menegaskan mayoritas warga sebenarnya merasa terganggu dengan perilaku tersebut.
Kontroversi bermula setelah sebuah video yang dibagikan melalui akun Truth Social milik Trump menampilkan potongan gambar yang menggambarkan Obama dan istrinya, Michelle Obama, sebagai kera.
Cuplikan itu muncul di bagian akhir video berdurasi lebih panjang yang memuat klaim tak berdasar mengenai kecurangan pemilu presiden 2020, dan diiringi lagu The Lion Sleeps Tonight. Unggahan tersebut langsung memicu kecaman dari berbagai kalangan politik, baik Partai Demokrat maupun Partai Republik.
Gedung Putih sempat membela unggahan itu dengan menyebut reaksi publik sebagai kemarahan palsu, sebelum akhirnya menyatakan video tersebut diunggah oleh seorang staf dan kemudian dihapus. Meski demikian, perdebatan mengenai rasisme dan etika komunikasi politik di Amerika telanjur meluas.
Obama membahas isu tersebut saat berbincang dengan podcaster Brian Tyler Cohen, yang menanyakan pandangannya mengenai kualitas percakapan politik di Amerika. Tanpa menyebut Trump secara langsung, Obama mengatakan masyarakat Amerika sebenarnya memahami batas kepantasan.
“Penting untuk menyadari bahwa mayoritas rakyat Amerika merasa perilaku ini sangat mengkhawatirkan. Memang benar hal itu menarik perhatian. Memang benar itu menjadi pengalihan isu,” ujarnya dikutip Mashable Indonesia dari BBC.
Ia menilai fenomena tersebut berkaitan dengan perubahan iklim komunikasi politik yang semakin keras. “Wacana kita telah merosot ke tingkat kekejaman yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Obama di awal perbincangan.
Cohen juga menyinggung bahwa beberapa hari sebelumnya Trump membagikan gambar wajah Obama pada tubuh seekor kera. Video itu mengingatkan pada karikatur rasis lama yang membandingkan orang kulit hitam dengan monyet, stereotip yang telah lama dikritik dalam sejarah Amerika. Klip tersebut diduga berasal dari unggahan kreator meme konservatif di platform X pada Oktober tahun lalu.
Reaksi keras datang bahkan dari internal Partai Republik. Senator Tim Scott, satu-satunya senator Republik berkulit hitam di Senat AS, menyebut video tersebut sebagai hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini.
Trump sendiri mengatakan kepada wartawan bahwa ia tidak melihat bagian video yang menampilkan keluarga Obama. Ketika ditanya apakah akan meminta maaf, ia menjawab, “Saya tidak membuat kesalahan.”
Dalam podcast berdurasi sekitar 47 menit itu, Obama juga menggambarkan situasi politik modern sebagai tontonan yang kerap kehilangan batas.
“Ada semacam pertunjukan badut yang terjadi di media sosial dan televisi. Dan kenyataannya, tampaknya tidak ada lagi rasa malu pada orang-orang yang dulu merasa harus memiliki etika, kepantasan, dan rasa hormat terhadap jabatan. Itu sudah hilang,” ujarnya.
Meski demikian, Obama mengaku pengalamannya berkeliling Amerika menunjukkan gambaran berbeda dibanding suasana di internet. Ia mengatakan masih banyak warga yang memegang nilai dasar dalam kehidupan publik. Menurutnya, ia bertemu orang-orang yang masih percaya pada kesopanan, tata krama, dan kebaikan.
Selain membahas polemik video tersebut, Obama juga menyinggung sejumlah isu lain, termasuk demonstrasi damai menentang operasi imigrasi federal serta penataan ulang daerah pemilihan di AS. Ia turut membicarakan pembangunan perpustakaan kepresidenannya yang dijadwalkan dibuka di Chicago tahun depan.
Polemik ini memperpanjang daftar kontroversi politik di Amerika Serikat menjelang tahun politik berikutnya. Para pengamat menilai kasus tersebut menunjukkan bagaimana media sosial semakin berperan besar dalam membentuk persepsi publik, sekaligus memicu perdebatan tentang batas kebebasan berekspresi, rasisme, dan etika pejabat publik.
Dengan pernyataan yang disampaikan tanpa menyebut nama Trump, Obama tampak berupaya mengarahkan perhatian pada standar moral yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya satu unggahan, melainkan perubahan budaya komunikasi politik.
Bagi Obama, tantangannya kini bukan sekadar merespons kontroversi, tetapi mengembalikan rasa hormat dalam ruang publik Amerika.